Kenapa harus mereka yang sadar….

Uhm, aq nulis ini bukan offence ya, cuma mau utarakan apa yang ada dipikiran. Jadi kalu pembaca mau komen, slow2 aja jgn komen yang “menyerang”. Oya ini bukan cuma untuk orang islam aja koq, semuanya boleh baca….

Akhirnya puasa tiba, ada yang mikir ini waktunya kita menambah pahala, ada yang bilang ini waktunya menambah untung (buat penjual bunga), ada yang bilang ini saatnya dapet kerja (buat penjual petasan), ada yang bilang ini waktunya libur (buat para pegawai bar ), bahkan ada yang bilang bulan ini cuma nyusahin rezeki mereka (buat pemilik toko yang siang hari tutup). Tapi dibalik semua pendapat itu, bulan puasa tetap menjadi bulan yang “berbeda” bagi kita smua.

Yang mau aku utarakan disini, bukan mengenai apa puasa itu, sebabnya, maupun jadwal imsak dsb. Tapi tulisan ini sesuai dengan judul yang aku beri, mengapa harus mereka yang sadar bukan kita yang umat muslim. Sadar dalam hal apa?? Begini ceritanya.

Kemarin hari Sabtu, aq berangkat ke Solo dengan Ortu buat “nyekar” nenek dan kakek. Abis itu di jalan aq lihat tulisan gedhe, bunyinya “Sedia Ta’Jil Murah, Hanya Rp. 500,00 Untuk Berbuka Pusa” mungkin itu umum ya kalo sedang bulan puasa, tapi yang membuat aku sedikit miris adalah yang memberi itu dari agama yang berbeda. Bukannya aku ngak mau nerima pemberian mereka, cuma aku mikir kenapa mereka bisa seperti itu sedangkan kita tidak. Mereka yang tidak seiman dengan kita, bahkan mungkin ada yang menganggap kita (umat muslim) orang kafir, koq mau2nya mbantu orang yang sedang puasa.

Sebelum dilanjutkan, aku mau bilang ini ngak ada hubungannya dengan aksi kekerasan, oke. Aku ngak bakal mbahas itu di sini. Aku cuma mau menyoroti hal lain. dan hal itu adalah soal kebaikan yang telah kita berikan(umat muslim) kepada sodara sesama muslim. Dan ini menyangkut buka puasa maupun sahur. Memang sih di Masjid2, kantor Pengcab. partai2 peserta Pemilu maupun tempat lain banyak mengadakan kegiatan di atas tadi. Tapi ada juga beberapa orang yang tidak melakukannya. Mereka lebih memilih “menyempurnakan” ibadahnya, daripada membantu orang lain.

Sebagai contoh di Indonesia ini (saya hanya menyorot Indonesia saja) banyak orang yang telah melaksanakan ibadah Haji, bahkan sampai melakukannya tiap tahun pun ada. Namun dari semua orang itu, tidak semuanya melaksanakan ibadah haji karena ibadah. Namun lebih menganggap ibdah haji sebagai sebuah prestise. Sebagai bukti bahwa orang itu mampu. Sehingga bagi orang tersebut (sekali lagi no offence) lebih memilih melaksanakan ibadah haji belasan kali, daripada membantu menyediakan makanan minuman berbuka maupun sahur.

Padahal biaya untuk Haji itu tidak sedikit. Kalo toh biaya itu disalaurkan seluruhnya untuk membuat Ta’Jil dengan ditukar uang Rp 500, 00/orang, pasti bisa untuk memberi Ta’Jil selama 1 bulan penuh paling tidak bagi 50 orang/hari. Jadi hal inilah yang saya sayangkan, mengapa mereka yang mampu lebih memilih melakukan ibdah Haji, daripada memberi sesama. Padahal kalo kita memberi sesama juga bukan berarti pahala kita berkurang(kalo itu yang kita kejar). Kita justru akan merasa bangga, bila hal yang kita lakukan tadi dapat menyelamatkan hidup sodara kita.

Jadi menurut saya lebih baik kita memberi sesam bila kita mampu, daripada kita melaksanakan Haji berkali-kali. Toh efeknya pada kehidupan kita sebagai sesama umat manusia justru lebih terlihat kalo kita saling memberi daripada kita naik Haji berkali-kali. Belum tentu dengan melaksanakn Haji berkali-kali kita dapat membantu orang lebih banyak daripada sekali naik Haji namun rajin memberi Ta’Jil. Jadi maksudnya adalah, kita juga harus memperhatikan orang lain. Kita tidak boleh egois.

Kita harus saling membantu, karena tujuan kita diciptakan banyak jumlahnya dan berbeda adalah untuk saling mengisi. Agar kita dapet mencapai “sesuatu” yang kita sebut kedamaian. Jadi semoga saja sesama sodara muslim yang membaca ini jadi tergerak hatinya untuk memberi Ta’Jil. Tapi bukan untuk “menantang” agama lain yang melakukan hal ini. Melainkan untuk membantu sesama saudara kita yang juga melakukan ibadah ini(puasa).

Mungkin ini saja yang mau saya curahkan. Sekali lagi saya tidak bermaksud “menyerang”, saya hanya ingin menulis apa yang saya pikir. dan saya ucapkan terima kasih banyak bagi saudara2 muslim maupun non-muslim yang telah memberi Ta’Jil maupun Sahur bagi umat muslim yang kurang mampu. Dah ini aja, baru ini yang kepikiran setelah vakum berminggu-minggu. Sekali lagi maaf kalo ada yang tersinggung.

CMIIW

One thought on “Kenapa harus mereka yang sadar….

  1. wiek mengatakan:

    uhukk….mengharukan. kayak baca curhatan ne…
    Amiiiiin…mudah²an harapan Mas Sandy untuk mencapai “sesuatu” yang namanya kedamaian tuh bisa tercapai ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s